CERPEN

Selasa, 20 Oktober 2009

Anekayess-online.com – “Cinta mampu menembus batas apa pun, termasuk etika.”
Jatuh cinta itu soal biasa. Tidak haram hukumnya. Yang haram itu kalau kita salah mengekspresikannya. Puasa aja kalaudilaksanakan
pas hari raya lebaran jelas-jelas ibadah yang diharamkan! Tapi buat Arinda jadi tidak biasa. Agak sedikit di luar kebiasaan anak-anak
remaja seusianya. Pasalnya, dia jatuh cinta sama guru matematikanya! Gila!!! Sebagian orang pasti akan berkata begitu. Begitulah cinta, tidak punya mata. Dia datang begitu saja tanpa diundang.

“Cinta mampu menembus batas apa pun, termasuk etika.”

Kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja!
Pak Andi guru matematika yang baru mengajar di sekolah Arinda sejak dua bulan yang lalu—yang kalau dilihat dari tampangnya, usianya tidak lebih tua dari ibunda Arinda itu, punya alis tebal di
atas kedua matanya yang memancarkan wibawa. Hidungnya mancung. Kumisnya tipis. Dagunya lancip. Perawakannya tinggi. Berkulit putih
bersih. Yah… kalau dijejerin sama Ari Wibowo aja sih, gak kalah-kalah amat. Mungkin itu pula yang menyebabkan nilai matematika siswi-siswi di
kelas 3 IPA 2 meningkat pesat. Terutama Arinda. Padahal, waktu mata pelajaran itu dipegang Bu Jamilah yang judesnya nauzubillah, nilai ulangannya selalu tidak lebih dari lima. Tapi setelah dipegang oleh Pak Andi, belum pernah nilai ulangannya mendapatkan nilai di bawah 8. Fantastis!
Masih terkenang di benak siswi kelas 3 es-em-u itu, ketika pertama kali Pak Andi menjejakkan kaki di kelasnya.
“Gile… gue kira ada artis sinetron yang nyasar…”
“Nggak taunya guru baru!”
Komentar semacam itu segera saja berhamburan dari mulut para kaum Hawa di kelas itu. Dan Arinda bukan satu-satunya siswi yang matanya dibuat terbelalak oleh ketampanan guru baru itu.

http://www.anekayess-online.com/cerpen/article.php?article_id=3390

Selasa, 13 Oktober 2009

GERBONG HANTU

Anekayess-online.com – Bukan pertama kali ini Han mengunjungi rumah Margo di Betal. Tapi kali ini tujuannya bukan sekedar untuk refreshing menikmati udara pedesaan atau hura-hura. Han berniat untuk merekam hantu!

Sudah empat puluh hari berlalu, tapi peristiwa tragis sekaligus mengerikan itu masih terbayang jelas di benak setiap warga Dusun Betal. Siapa yang bisa melupakan seratus orang yang meninggal dunia begitu saja? Seratus orang meninggal dunia, puluhan lainnya luka berat dan ringan, dan beberapa hilang tak ditemukan jazadnya hingga kini. Tiga gerbong hancur di sungai di dasar jurang! Peristiwa naas itu masih menyisakan banyak misteri, dari awal hingga kini. Penyelidikan sudah dimulai bersamaan dengan evakuasi jenazah
korban dari dasar sungai, tapi penyebab kecelakaan tunggal kereta api malam itu belum dapat dipastikan. Bagaimana mungkin tiga gerbong
belakang dari rangkaian kereta itu bisa lepas, keluar dari jalur rel dan akhirnya terpuruk ke dalam sungai di dasar jurang. Tiga gerbong terakhir yang membawa hampir 200 penumpang, terlebih dahulu menghantam besi baja tiang jembatan bagian kiri, sebelum akhirnya terhempas di dasar jurang dan hanya setengah dari seluruh
penumpangnya yang selamat. Sepekan penuh penduduk Dusun Betal ikut membantu tim evakuasi.
Mengumpulkan seluruh korban meninggal dunia yang bisa ditemukan dan akhirnya mengangkat bangkai gerbong dari sungai di kedalaman jurang
sedalam 20 meter itu. Dan misteri masih berlanjut.
“Kamu bisa bayangkan, Han? Seratus jiwa melayang. Seratus orang meninggal secara tak wajar di tempat, waktu dan penyebab yang sama.”

Han mendengarkan penuturan sahabatnya itu dengan seksama. Ia menahan napas, membayangkan seandainya ia menjadi bagian dari kecelakaan
kereta api tersebut. Han sama sekali tidak terkejut dengan cerita itu. Margo sudah menceritakannya beberapa kali dan ia sendiri sudah membaca beritanya di koran-koran lebih dari sebulan yang lalu.

Jum’at, 9 Oktober 2009

Anekayess-online.com – “Re, kenapa elo enggak percaya dengan perkataan gue? Apakah cinta itu harus tumbuh karena keindahan fisik semata? Enggak, Re. Elo punya kelebihan kepintaran. Satu anugerah yang sifatnya lebih abadi ketimbang kecantikan.”

Sudah setengah jam lebih Rere mematut diri di cermin dengan mengubah-ubah gaya rambutnya. Tapi, bagaimanapun rambut panjangnya diubah gaya, tetap saja tidak dapat menutupi ketebalan kacamata minus barunya itu. Ini membuat Rere kecewa.
“Ya, Tuhan… mengapa Kau berikan cobaan yang begitu berat ini padaku?” batin Rere. Hatinya benar-benar sedih karena minus matanya naik lagi, yang kiri satu dan yang kanan juga satu. Kini genaplah kedua matanya minus sepuluh. Uh! Makin tebal aja tuh kacamata.
Rere menyudahi juga mematut diri di cermin. Ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Meski hal-hal yang tak mengenakan terbayang dalam benaknya. Dengan kacamata minus barunya yang semakin tebal itu tentu Rere akan jadi bahan olok-olokan Bela `n gengnya. Bela `n gengnya itu emang benci banget dengan yang namanya Rere. Kebencian mereka kepada Rere lantaran sikap Rere yang mereka anggap sok idealis. Mentang-mentang murid paling pinter enggak pernah mau ngasih contekan. Tapi, yang lebih membuat Rere khawatir ialah tak ada cowok yang terpikat denganya lantaran kacamata tebalnya.
Airmata Rere meleleh. Kacamatanya itu serasa beban buatnya. Karena kacamatanya itulah sampai kini ia tak pernah memiliki pacar. Belum lagi di sekolah ia dijuluki si kacamata pantat botollah, si kutu bukulah. Tapi jika dijuluki si kutu buku itu memang tepat. Sejak kecil Rere memang hobi banget dengan yang namanya baca buku. Dari mulai komik, novel, sampai buku politik. Tak heran jika wawasan Rere melebihi rata-rata anak seusianya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s